Ada satu rasa yang tidak biasa. Belum pernah ada yang menamainya sepengetahuanku. Tidak pernah diperdendangkan sebagai sebuah syair lagu atau sebuah puisi yang begitu populer. Entah apa namanya? Perasaan yang bisa mengisi energi kita kembali. Walau hanya dengan menceritakannya. Seperti mendapat dua piring nasi hangat dengan lauk dan minuman favorit kita setelah mencapai puncak gunung yang kita daki. Segar, puas, kenyang, menggairahkan dan penuh inspirasi.
Ini tentang sebuah kenangan. Tentang sebuah memori, megingat-ingat hari-hari kemarin yang terasa biasa saat itu dan begitu berharga saat ini. Saat jiwa kita telah bertambah luas beberapa inci untuk mengerti dan menerima hari-hari itu. Tentang dia yang pernah menjadi yang terindah bagi mu, seorang remaja SMA. Berawal dari perasan suka dan perjuangan mendapatkannya. Namun apapun hasilnya, itu bukanlah yang harus kita bahas. Kesalahan yang memang salah adanya.
Seperti sebuh biji bertunas dua. Perasaan itu tumbuh dan menyesap dari satu biji yag sama, kotiledon yang membuat kita merasakan benih perasaan itu menjamah kita. Jauh didalam. Bahkan kita terkadang terlambat menyadarinya karena telalu banyak yang kita lihat di luar. Seperti sebuah kecambah. Pernahkah kita bisa tahu kapan ia tumbuh? Yang kita tahu, hari ini ia sebuah biji, besok pagi ia adalah kecambah dengan akar mungil. Kapan ia tumbuh? Lebih baik kita tahu bagaimana merawatya agar terus tumbuh daripada memikirkan kapan ia tumbuh. Kita harus mampu menjaga perasaan itu, tanpa mempermasalahkan kenapa ia ada dan kenapa ia tumbuh. Jagalah.
Kita adalah tunas yang besar dari biji yang sama. Mungkin bukan putik yang terbuahi serbuk sarinya. Kita telah tumbuh dari biji yang sama. Saat kita rentan, bahkan sangat rentan untuk dapat tumbuh menyndiri, saat itulah kita tumbuh bersama. Bukan karena tujuan kita tumbuh, api karena kita lah biji itu. Kini kita adalah pohon yang telah kuat diatas akar kita masing-masing. Begitu kuat kita dulu menyatu. Kini kita adalah diri yang saling membayangi. Duu dalam satu biji, kini kita dalam satu tanah yang sama, pertiwi yang sama.
Seperti itulah, ia yang indah. Dulu, kini dan nanti. Menjadi penjaga dan membawa kita tumbuh dengan rasanya, walau kini ia adalah bukan milik kita.
-DY29-



Oktober 18, 2009 pada 7:13 pm
sungguh dilematis….peng ‘analogi’an yang sungguh luar biasa…semoga ga plagiator,,hehe
November 13, 2009 pada 4:19 pm
jatuh cinta ama patah hati itu emang tipissssss
Desember 16, 2009 pada 9:56 am
Cepet cari pacar baru Yu…
Maret 3, 2010 pada 3:46 pm
terlepas dari jatuh dan patah…ramuan kata-katanya bagus…SALUT..calon Bloger berbakat kayaknya ni..
Salam damai dan TETAP SEMANGAT!!